Form Login



Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini26
mod_vvisit_counterKemarin27
mod_vvisit_counterMinggu ini185
mod_vvisit_counterMinggu lalu200
mod_vvisit_counterBulan ini876
mod_vvisit_counterBulan Lalu1233
mod_vvisit_counterSemua14007

Online (20 menit lalu): 2
IP Anda: 38.107.179.237
Hari ini: Jan 28, 2012
Mukadimah

Segala puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT Yang Maha Lembut dan Kasih Sayang kepada hamba-hamba-Nya. Sholawat dan Salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhamad SAW. serta segenap keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya.

Kehadiran web ini tidak terlepas dari semangat menegakkan, melanjutkan dan menyebarkan Risalah Rasulullah saw yang Rahmatan lil ‘Alamin. Termasuk didalamnya  membina ukhuwah Islamiah dan ukhuwah basyariah dalam kehidupan bermasyarakat serta berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan lahir batin Ummat Islam khususnya dan seluruh umat pada umumnya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah bersabda : “Terdapat dua perkara yang tidak ada yang lebih utama dari keduanya, yaitu : Iman kepada Allah dan memberi manfaat kepada kaum muslimin (baik dengan ucapan, kuasa, harta maupun tenaga)”.

Pada riwayat lain disebutkan bahwa barangsiapa bangun pagi dan tidak bermaksud menzalimi seseorang, maka ia diampuni dosa dosanya. Dan barangsiapa bangun pagi dan bermaksud menolong orang yang teraniaya serta memenuhi keperluan orang Islam, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji mabrur.

Manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain adalah termasuk orang yang paling dicintai oleh Allah swt, dan seutama-utama amal adalah menyenangkan hati orang yang beriman dengan cara menghilangkan kelaparan, kesusahan dan melunasi hutangnya.

Kemauan untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain akan semakin kuat apabila kita sadari bahwa sesungguhnya apapun yang kita lakukan untuk orang lain pada hakekatnya akan kembali ke diri kita sendiri.

Semoga kemunculan web ini merupakan bagian dari usaha untuk lebih bermanfaat bagi orang lain dan semoga Allah swt menerima usaha ini sebagai ibadah yang diterima disisi-Nya.

 

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
(HR. Ad-Daruquthni dan Ath-Thabarani)

 
Haji
Jumat, 14 Januari 2011 21:30

Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji, beliau tertidur di Masjidil Haram. Beliau bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit, lalu yang satu berkata kepada yang lain, “Berapa banyak orang-orang yang berhaji pada tahun ini?” Jawab yang lain, “Enam ratus ribu.” Lalu ia bertanya lagi, “Berapa banyak yang diterima ?” Jawabnya, “Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun itu diterima dengan berkat hajinya Muwaffaq.”


Abdullah bin Mubarak mendengar percakapan itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq itu. Sampailah beliau ke rumahnya lalu diketuklah pintunya, seketika keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya namanya. Lelaku tersebut menjawab, “Muwaffaq.”

 

Lalu Abdullah bin Mubarak menceritakan mimpinya dan bertanya padanya, “Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga mencapai derajat yang sedemikian itu?” Jawab Muwaffaq, “Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak dapat karena keadaanku, tetapi mendadak aku mendapat uang tiga ratus dirham dari pekerjaanku membuat dan menampal sepatu, lalau aku berniat haji pada tahun ini sedang isteriku dalam keadaan hamil. Pada suatu hari dia mencium bau makanan dari rumah jiranku dan ingin makanan itu, maka aku pergi ke rumah jiranku dan menyampaikan tujuan sebenarnya kepada wanita jiranku itu.


Dengan suara lirih jiranku tersebut menjawab, “Aku terpaksa membuka rahasiaku, sebenarnya anak-anak yatimku sudah tiga hari tanpa makanan, karena itu aku keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba bertemulah aku dengan bangkai himar di suatu tempat, lalu aku potong sebagiannya dan bawa pulang untuk masak, maka makanan ini halal bagi kami dan haram untuk makanan kamu.

 

“Ketika aku mendengar jawaban itu, segeralah aku kembali ke rumah dan mengambil uang tiga ratus dirham dan keserahkan kepada jiranku tadi seraya menyuruhnya pembelanjakan uang itu untuk keperluan anak-anak yatim yang ada dalam pemeliharaannya itu”.


“Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku.” Kata Muwaffaq lagi.

Banyak kisah-kisah yang senada dengan diatas, yang menunjukkan pentingnya ibadah-ibadah sosial disamping ritual. Khusus dalam hal ibadah haji ini, di negara kita sungguh ironis sekali. Disatu sisi banyak umat islam yang berhaji berkali-kali, sementara yang lain, jalannya belum tampak atau kalau yang sudah tampak harus menunggu beberapa tahun antrian. Belum lagi banyaknya saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan, baik untuk kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan atau yang lainnya.

Rasulullah saw., sebagai Uswatun Hasanah, selama hidupnya hanya berhaji sekali, sudah sepatutnyalah kita dalam hal ini meniru Beliau…. (R.ua.).

 
Subhaanallah
Senin, 27 September 2010 22:00

Al Faqih Abu Laits Samarqandi menuturkan sebuah riwayat dari sebagian ulama. Ia bercerita bahwa seorang laki-laki kampung berdiri di atas kuburan Nabi saw. dan berkata : “Ya Tuhanku, demi tanah yang agung ini, aku memohon kepada-Mu agar member rizki kepadaku sebanyak empat ribu dirham.”

Abu Ayyub al-Anshari mendengarnya lalu berkata : “ Hei orang kampung, kamu menyeru Allah dengan kemuliaan Rasulullah saw, kemudian kamu meminta dunia !!?”

Orang kampung itu berkata : “Kamu itu tidak tahu alasanku memohon kepada-Nya.”

“Apa alasanmu ?” lanjut Abu Ayyub.

Ia berkata : “Aku akan berikan seribu dirham untuk agama, lalu aku akan menikah dan memberikan seribu dirham sebagai maharnya, kemudian aku berikan seribunya untuk nafkah. Setelah itu aku akan membeli kuda-kuda seribu dirham lalu aku akan pergi berperang di jalan Allah.”

Lalu Abu Ayyub menarik tangannya dan membawanya ke rumah. Ia memiliki sebidang tanah, dan ia menjualnya seharga dua belas ribu dirham. Lalu empat ribunya ia berikan kepada orang kampung itu, empat ribu dirhamnya ia bagi-bagikan ke seluruh tetangganya dan sisanya yang empat ribu ia berikan kepada para fakir secara merata. Pada hari itu ia sedang berpuasa dan ia tidak menyisakan sesuatupun yang dapat ia makan.

Setelah esok harinya ia masuk ke dalam masjid lalu ia melihat tiga puluh tumpukan dirham: dalam setiap tumpukannya berisi empat ribu dirham, dan dalam setiap tumpukan tertulis :

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ.

Artinya :

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya,” (QS. Saba’ : 39)

Pada setiap bagian bawah tumpukan itu terdapat tulisan riq’ah (salah satu jenis kaligrafi) dengan bunyi : “Hai Abu Ayyub, ini adalah ganti di dunia dari sedekah yang kau berikan, dan pahalanya besok di akhirat tidak akan hancur dan lenyap. Dan Dia adalah sebaik-baik Zat yang memberi rizki.”

Subhaanallah… (R. ua.)

 
Engkau Lebih Mulia Dariku
Senin, 08 Maret 2010 23:03

Dalam kitab Nashoihul Ibad disebutkan bahwa Syeikh Abdul Kadir Al-Jailani berkata :

”Apabila engkau bertemu dengan seseorang, hendaklah engkau memandangnya lebih utama dari kamu.  Hendaklah engkau mengatakan mungkin dia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya disisi Allah daripada diriku”.

“Apabila dia lebih muda, hendaklah engkau mengatakan bahwa dirimu lebih banyak berbuat dosa daripada dia, maka tidak ragu lagi bahwa dia lebih baik daripada aku”.

“Apabila engkau melihat keadaaan orang lain lebih tua, hendaklah engkau mengatakan dia lebih banyak beribadah kepada Allah sebelum aku.  Apabila keadaan orang yang engkau pandang sebagai orang alim, hendaklah engkau mengatakan orang ini telah diberi sesuatu (anugerah) yang belum aku dapatkan dan dia telah mengetahui apa yang belum aku ketahui serta telah mengamalkan ilmunya”. dirimu lebih banyak berbuat dosa daripada dia, maka tidak ragu lagi bahwa dia lebih baik daripada aku”.

“Apabila orang itu bodoh, hendaklah engkau mengatakan orang ini durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sementara aku berbuat dosa padahal aku berilmu. Aku tidak tahu bagaimana keadaan akhir hidupku dan hidupnya. (apakah khusnul khotimah atau su’ul khotimah)”. dirimu lebih banyak berbuat dosa daripada dia, maka tidak ragu lagi bahwa dia lebih baik daripada aku”.

“Apabila keadaan orang yang engkau lihat itu kafir, hendaklah engkau mengatakan mungkin dia akan masuk Islam dan berakhir dalam keadaan husnul khotimah. Sebaliknya aku mungkin akan menjadi kafir sehingga aku berakhir dalam keadaan su’ul khotimah”. dirimu lebih banyak berbuat dosa daripada dia, maka tidak ragu lagi bahwa dia lebih baik daripada aku”.

 

Munajat :
“Ya Allah jadikanlah aku orang yang sabar dan bersyukur, dan jadikanlah aku dalam pandanganku seorang yang kecil / hina, namun besar / mulia dalam pandangan orang lain”.

"Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka". (R.ua)

 


MLM Rabithah

Bagi yang ingin mendapatkan Informasi dari MLM Rabithah Alawiyah Pekalongan silakan SMS dengan format :

REG NAMA KOTA

Kirim ke 085728129559

Polling

Design web rabithah?
 

Iklan Anda

Iklan

Iklan Baris

Rabithah Pusat
Web Resmi Rabithah Alawiyah Indonesia
E-Com Web
Buat Web Murah & Bergaransi? Hubungi Kami 0285-7863662